Bapangku Bapunkku, Novel Pemenang Kedua LMNI Penerbit Indiva

Judul : Bapangku Bapunkku
Penulis : Pago Hardian
Lini : Novel
ISBN : 978-602-1614-47-1

Sinopsis

#BapangkuBapunkku
Ini kisah antik keluargaku bersama ayah yang tidak mau dipanggil Ayah, maunya dipanggil Bapang. Itu panggilan untuk ayah dalam bahasa Semende. Tak cukup sampai di situ, diam-diam Bapang menganut aliran PUNK. Itu aliran yang mengagung-agungkan kebebasan. Mulai dari kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, hingga kebebasan berkarya dan mengeluarkan pendapat. Syukurlah, Bapang tidak menata rambutnya gaya buah duren masak di pohon atau gaya sapu ijuk dari Yunani. Sebab, Bapang mengaku kalau dia itu PUNK muslim! Meski demikian, pemikiran dan tindakan Bapang sehari-hari nyentriknya minta ampun! Apa-apa diprotes; sistem pendidikan diprotes, pembangunan masjid diprotes, kepala sekolah diajak ribut, dokter ditantang, maling jemuran dijadikan sahabat, dan petugas KB di Puskesmas diajak berdebat!

Klimaksnya, pada hari Senin sehabis liburan kenaikan kelas, Bapang melarang anak-anaknya pergi ke sekolah! Seragam sekolah kami dimasukkan ke dalam karung untuk dibakar. Bunda meradang melihat kenyataan itu, Berpikir bebas boleh saja, tapi membakar seragam sekolah anak-anak adalah tindakan yang tidak bisa lagi ditoleransi. Bunda melawan Bapang dengan garang. Dan kebahagiaan keluarga kami berada di ujung tanduk; akte cerai nyaris diteken!

Bagaimana usaha Bapang untuk menyelamatkan keluarga dengan empat anaknya? Bagaimana cara Bapang mendidik keempat anaknya hingga jadi orang-orang yang sukses? Silakan baca kisah ini dan jangan menyalahkan jika nanti tertular virus PUNK ala Bapang. Kisah ini akan membuat siapa pun berpikir keras, tertawa ngakak, hingga menangis sedih, lalu bangkit dan berdiri tegak untuk berkarya dan bekerja keras! Sebab, dunia sudah lama menanti karya-karya besar kita semua!

Novel ini adalah pemenang kedua Lomba Menulis Novel Inspiratif (LMNI) 2014 Penerbit Indiva. Menurut salah satu juri, yaitu Afifah Afra, novel ini terbilang unik, karena memuat berbagai filosofi kehidupan yang mendalam, namun diangkat dengan bahasa yang ringan, dan penuh humor-humor segar.

Tertarik memiliki buku karangan Pago Hardian ini? Silakan bisa klik SINI atau hubungi Admin Toko Buku Afra di nomor 0878-3538-8493 (SMS/WA).


Jadi, Apa Alasan Bikin Penerbit Sendiri?


Melanjutkan Tulisan Self Publishing, Why Not?
By Afifah Afra

Tentu, seperti yang sedikit diulas di tulisan sebelumnya, ada beberapa alasan kenapa seseorang, khususnya para penulis, mencoba bikin self publishing. Saya coba tuliskan disini yaa?
  1. Tidak puas dengan sistem yang berlaku di penerbit yang selama ini menerbitkan karya-karyanya.  Tahu sendirilah, di Indonesia, nasib penulis memang tak terlampau menyenangkan. Memang ada Kang Abik atau Mas Andrea Hirata yang konon royaltinya sampai milyaran. Tetapi banyak kok, penulis yang meskipun bukunya sudah banyak tetapi masih ngontrak di rumah tipe RSSSS... (rumah sangat sederhana sangat sumpek setiap sabtu semakin sumpek sebab saudara-saudara singgah... haha). Banyak penerbit yang tidak terlalu rapi dalam memenej hubungan dengan penulis. Pelaporan royalti yang tak jelas, tidak transparan sampai performance buku yang mengecewakan. Karena pengin merubah sistem perbukuan yang karut-marut, maka para penulis pun bersemangat membuat penerbit sendiri. Tetapi, ketika seorang penulis kemudian menjadi penerbit, nggak semudah membalikkan telapak tangan lho, buat memperbaiki keadaan. Saya sendiri juga menyadari, emang nggak gampang bikin penerbitan sendiri.
  2. Tidak adanya kesamaan selera antara penulis dengan penerbit. Hal ini sering banget terjadi lho. Maka, banyak kasus terjadi, ada naskah yang ditolak di sana-sini, ternyata ketika diterbitkan di sebuah penerbit malah meledak. Entah, saya sendiri juga sering heran dengan 'kacamata' yang dikenakan sebuah penerbit dalam meramal apakah karya tersebut akan laku di pasar atau tidak. So, karena seorang penulis merasa frustasi karena ditolak penerbit (pada penulis yang jam terbangnya sudah tinggi sih biasanya karena faktor pasar), mending kalau ada rezeki diterbitkan sendiri aja. Setelah terbit, bisa saja karya itu meledak--berarti penulis yang pintar memprediksi, atau justru numpuk di gudang--yang berarti penerbit yang memang pintar membaca pasar.
  3. Idealisme Penulis. Terkait dengan alasan kedua, memang nggak selalu penulis itu menulis demi uang. Maka, ia rela menerbitkan karya-karyanya semata buat idealisme. Tak sekadar dijual murah, justru dibagi gratis. Memang ada sih, penerbit yang juga nggak semata cari uang. Tetapi tanpa uang, penerbit nggak bisa menggaji karyawan, membeli kertas dan bahan2 produksi lainnya, merawat mesin dsb. Jadi, penerbit biasanya lebih realistis dalam masalah keuangan dibanding dengan penulis.
  4. Menjajal Bisnis Penerbitan. Orang yang paling bisa menjual sebuah buku, sebenarnya adalah penulisnya itu sendiri. Pembaca tentu akan lebih senang mendapat buku yang sudah diberi pesan spesial plus tanda-tangan (apalagi jika disertai diskon khusus) dari penulis.
  5. Kepuasan pribadi. Asyik banget rasanya jika 100% eksekusi kaver, layout, dan segala performance buku ditentukan oleh kita sendiri bukan?
Nah, itu berapa alasan mengapa seorang penulis beralih profesi jadi penerbit. Mungkin masih banyak alasan-alasan lain. Tetapi, tidakkah kelima hal tersebut sudah cukup menggoda Anda (jika anda seorang penulis) untuk membikin penerbit sendiri? Yang jelas, tantangannya pasti lebih besar. Karena kuadrannya pun sudah berbeda, resikonya pun akan berbeda, semakin besar. Wallahu a'lam.

Self Publishing, Why Not?!

Oleh Afifah Afra
(CEO PT Indiva Media Kreasi)

#Part One#

Siapa nama Anda? Fatimah, Damarwulan, Adinda, Salman... atau Anita? Ah, maaf, saya sedang tidak mengabsen Anda. Saya hanya sedang mengajak Anda membayangkan, bagaimana rasanya jika di belakang Anda ditambah embel-embel 'Publishing'. Menjadi semacam Asma Nadia Publishing, Afra Publishing, atau Pingkan Publishing.

Asma Nadia adalah salah satu dari jajaran penulis perempuan Indonesia yang tersukses memainkan peran, bukan hanya sebagai penulis, tetapi juga penerbit. Belakangan, bukunya "Ketika Emak Ingin Naik Haji" dilayarlebarkan, yang tentunya semakin membuat popularitas buku ini meningkat pesat.

Afra Publishing adalah salah satu lini dari penerbit Indiva Media Kreasi yang hingga kini masih eksis. Dahulu Afra Publishing merupakan self publishing dari Afifah Afra (nama pena saya, hehe), yang dikelola dengan begitu sederhana, tanpa karyawan, tanpa kantor dan badan usaha, namun alhamdulillah berhasil mencetak beberapa buku best seller, seperti Teman Tapi Mesra, Cinta Apa Nafsu dan How Tobe a Smart Writer. Semua saya tulis sendiri, dengan alasan paling mendasar: belum mampu bayar royalti. Lantas, mulai 2007, Afra Publishing bergabung dengan Indiva Media Kreasi yang sekarang telah menerbitkan lebih dari 100 buku.

Pingkan Publishing? Siapa Pingkan? Jika Anda adalah seorang aktivis masjid sekolah atau masjid kampus, atau minimal berinteraksi erat dengan kalangan ini, pasti Anda pernah mengenal nama Pingkan. Ia tidak ada di dunia nyata, tetapi hanya ada di alam fiksi. Ia adalah tokoh utama di Serial Pingkan besutan Muthmainnah alias Maimon Herawati yang kini anggota Dewan Pertimbangan FLP Pusat. Setelah SP off right dari penerbit Syaamil, Uni Maimon bermaksud menerbitkan lagi dengan logo Pingkan Publishing. Sayangnya, tak seperti Asma Nadia yang serius mengurus penerbitan pribadinya, Uni Maimon tampaknya lebih memilih mengurusi aktivitas lainnya.

Apa yang Anda pikirkan ketika seorang penulis menerbitkan bukunya sendiri? Mereka bermodal besar? Ah, tidak juga. Paling tidak, saya merasakan sendiri, ketika memulai mendirikan AP, modal saya hanya sebesar 2 juta rupiah, itu pun kalau Anda tahu darimana asal uangnya, pasti Anda akan geleng-geleng kepala saking kasihannya kepada saya. Lho, kok bisa? Ya, saya dan suami mendapatkan modal 2 juta rupiah dari menggadaikan cincin kawin, dan sebuah kalung emas hadiah dari ibu mertua. Bukan masalah besar bagi saya. Simpel saja mikirnya. Saya tidak suka pakai perhiasan. So, daripada menganggur di kotak perhiasan, kan mending digerakkan menjadi modal. Tetapi untuk menjualnya saya merasa sayang, karena bagaimanapun, perhiasan itu adalah hadiah dari seseorang. Cukup menggadaikannya. Dan ketika kami cukup uang, kami berniat menebusnya. Tapi, siapa nyana jika pegadaian syariah itu ternyata dirampok dan perhiasan itu pun raib! Memang sih kami dapat ganti, tetapi cincin dan kalung itu lenyap entah kemana.

Apakah naskah mereka tidak laku di penerbit sehingga lebih memilih menerbitkan sendiri? Hm, kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawabannya mungkin bisa iya atau tidak. Tetapi, siapa penerbit yang menolak jika ditawari naskah oleh Mbak Asma Nadia? Bukan sekadar tidak menolak, mereka pasti bahkan berburu naskah Mbak Asma. Justru para penulis menjadikan tulisan yang terbaik menjadi andalan penerbitan pribadi mereka. Alasannya sederhana, supaya bisa best seller. Setidaknya, inilah jawaban seorang penulis yang juga memiliki penerbitan pribadi ketika saya sebagai wakil Indiva meminta naskah kepadanya. "Naskah terbaik sedang saya siapkan untuk saya terbitkan sendiri." Yaah, gigit jari deh, saya ... :-)

Atau, mereka kecewa dengan penerbit-penerbit yang ada? Jawabannya juga antara iya dan tidak. Tetapi, banyak juga sih yang mengaku bahwa mereka dikecewakan penerbit sehingga beriltizam untuk membuat penerbitan sendiri. Kekecewaan itu macam-macam sumbernya. Mulai dari performance buku yang nggak sesuai keinginan, editing yang 'acak-acakan', hingga royalti yang macet.

Jadi, apa alasan para penulis menerbitkan bukunya sendiri? Baca aja kelanjutan artikel santai ini ya? Sekarang saya sudah benar-benar mengantuk. Hoaaaah... (huzzy, nggak sopyan ^-^).

Bersambung ke artikel Apa Alasan Bikin Penerbit Sendiri? 

Inspirasi Bisnis: 8 Langkah Menjadi Pengusaha

Oleh Afifah Afra

Selama ini, banyak banget di antara kita yang merasa ‘takut’ untuk berpindah kuadran menjadi pengusaha. Soalnya resikonya memang berat. Kalau usaha bangkrut, kita bisa kehilangan duit berpuluh-puluh, ratusan juta bahkan milyaran. Tetapi, menjadi karyawan pun sebenarnya nggak kalah mengerikan. Kalau perusahaan tempat bekerja kolaps, kan PHK juga.
Yang penting, jalani semua dengan serius.
Apa saja langkah-langkah yang bisa kita lakukan agar bisa menjadi pengusaha? Berikut ini langkah yang sangat sederhana, coba yuk!

Buku Laris


Pacaran? Iiiih ... Ngaak Banget!!
Penulis : Robiah Al Adawiyah & Hatta Syamsuddin
Ukuran : 14.2 × 20.5 cm
Tebal : 136 hlm.
ISBN : 978-979-1397-47-6
Harga : Rp 25.000,-
Penerbit: Indiva
Sinopsis
Kamu pengen pacaran ...? Nggak mau!!
Jangan boong! Taapiiii ... asal kamu tahu saja; PACARAN itu NGGAK BANGET, lho!! Aah, pasti kamu bakal mikir gini, ‘Ni penulis pasti nggak pernah pacaran sampai berani-beraninya bilang gitu!’. 


Buku Baru dari Indiva Media Kreasi

Ore Wa Ren!

Penulis : Deasylawati P.
Ukuran : 14.2 × 20.5 cm
Tebal : 232 hlm.
ISBN : 978-602-8277-24-2
Harga : Rp 25.000,-


Sinopsis
Ren Naoki, seorang murid baru pindahan dari Jepang. Penampilannya sedikit urakan dan berani, dengan rambut yang selalu berantakan dan dicat coklat. Meskipun bandel, dalam sekejap Ren sudah menjadi salah satu murid terfavorit di SMU 4 itu. Namun … kejanggalan demi kejanggalan mulai terlihat. Ingatannya terkesan begitu rapuh, dia hidup sendirian dan membiayai sekolahnya sendiri. 

Ayo Memulai Bisnis Online!

By Ummu Syahidah


Banjir, jalan macet, hujan lebat, jalan ambrol, angin puting-beliung, kerjaan yang padat, dan sebagainya... adalah alasan yang paling mendasar bagi kita untuk malas mencari apa-apa yang kita inginkan: pakaian, buku, tas dan berbagai perlengkapan lain. "Masih bisa ditunda, lain kali aja, kalau cuaca baik, kalau ada waktu, kalau sempat, kalau ... blablabla..."

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.