Oleh Afifah Afra
(CEO PT Indiva Media Kreasi)

#Part One#

Siapa nama Anda? Fatimah, Damarwulan, Adinda, Salman... atau Anita? Ah, maaf, saya sedang tidak mengabsen Anda. Saya hanya sedang mengajak Anda membayangkan, bagaimana rasanya jika di belakang Anda ditambah embel-embel 'Publishing'. Menjadi semacam Asma Nadia Publishing, Afra Publishing, atau Pingkan Publishing.

Asma Nadia adalah salah satu dari jajaran penulis perempuan Indonesia yang tersukses memainkan peran, bukan hanya sebagai penulis, tetapi juga penerbit. Belakangan, bukunya "Ketika Emak Ingin Naik Haji" dilayarlebarkan, yang tentunya semakin membuat popularitas buku ini meningkat pesat.

Afra Publishing adalah salah satu lini dari penerbit Indiva Media Kreasi yang hingga kini masih eksis. Dahulu Afra Publishing merupakan self publishing dari Afifah Afra (nama pena saya, hehe), yang dikelola dengan begitu sederhana, tanpa karyawan, tanpa kantor dan badan usaha, namun alhamdulillah berhasil mencetak beberapa buku best seller, seperti Teman Tapi Mesra, Cinta Apa Nafsu dan How Tobe a Smart Writer. Semua saya tulis sendiri, dengan alasan paling mendasar: belum mampu bayar royalti. Lantas, mulai 2007, Afra Publishing bergabung dengan Indiva Media Kreasi yang sekarang telah menerbitkan lebih dari 100 buku.

Pingkan Publishing? Siapa Pingkan? Jika Anda adalah seorang aktivis masjid sekolah atau masjid kampus, atau minimal berinteraksi erat dengan kalangan ini, pasti Anda pernah mengenal nama Pingkan. Ia tidak ada di dunia nyata, tetapi hanya ada di alam fiksi. Ia adalah tokoh utama di Serial Pingkan besutan Muthmainnah alias Maimon Herawati yang kini anggota Dewan Pertimbangan FLP Pusat. Setelah SP off right dari penerbit Syaamil, Uni Maimon bermaksud menerbitkan lagi dengan logo Pingkan Publishing. Sayangnya, tak seperti Asma Nadia yang serius mengurus penerbitan pribadinya, Uni Maimon tampaknya lebih memilih mengurusi aktivitas lainnya.

Apa yang Anda pikirkan ketika seorang penulis menerbitkan bukunya sendiri? Mereka bermodal besar? Ah, tidak juga. Paling tidak, saya merasakan sendiri, ketika memulai mendirikan AP, modal saya hanya sebesar 2 juta rupiah, itu pun kalau Anda tahu darimana asal uangnya, pasti Anda akan geleng-geleng kepala saking kasihannya kepada saya. Lho, kok bisa? Ya, saya dan suami mendapatkan modal 2 juta rupiah dari menggadaikan cincin kawin, dan sebuah kalung emas hadiah dari ibu mertua. Bukan masalah besar bagi saya. Simpel saja mikirnya. Saya tidak suka pakai perhiasan. So, daripada menganggur di kotak perhiasan, kan mending digerakkan menjadi modal. Tetapi untuk menjualnya saya merasa sayang, karena bagaimanapun, perhiasan itu adalah hadiah dari seseorang. Cukup menggadaikannya. Dan ketika kami cukup uang, kami berniat menebusnya. Tapi, siapa nyana jika pegadaian syariah itu ternyata dirampok dan perhiasan itu pun raib! Memang sih kami dapat ganti, tetapi cincin dan kalung itu lenyap entah kemana.

Apakah naskah mereka tidak laku di penerbit sehingga lebih memilih menerbitkan sendiri? Hm, kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawabannya mungkin bisa iya atau tidak. Tetapi, siapa penerbit yang menolak jika ditawari naskah oleh Mbak Asma Nadia? Bukan sekadar tidak menolak, mereka pasti bahkan berburu naskah Mbak Asma. Justru para penulis menjadikan tulisan yang terbaik menjadi andalan penerbitan pribadi mereka. Alasannya sederhana, supaya bisa best seller. Setidaknya, inilah jawaban seorang penulis yang juga memiliki penerbitan pribadi ketika saya sebagai wakil Indiva meminta naskah kepadanya. "Naskah terbaik sedang saya siapkan untuk saya terbitkan sendiri." Yaah, gigit jari deh, saya ... :-)

Atau, mereka kecewa dengan penerbit-penerbit yang ada? Jawabannya juga antara iya dan tidak. Tetapi, banyak juga sih yang mengaku bahwa mereka dikecewakan penerbit sehingga beriltizam untuk membuat penerbitan sendiri. Kekecewaan itu macam-macam sumbernya. Mulai dari performance buku yang nggak sesuai keinginan, editing yang 'acak-acakan', hingga royalti yang macet.

Jadi, apa alasan para penulis menerbitkan bukunya sendiri? Baca aja kelanjutan artikel santai ini ya? Sekarang saya sudah benar-benar mengantuk. Hoaaaah... (huzzy, nggak sopyan ^-^).

Bersambung ke artikel Apa Alasan Bikin Penerbit Sendiri? 
Author image
About the Author :

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Integer nec odio. Praesent libero. Sed cursus ante dapibus diam. Sed nisi. Nulla quis sem at nibh elementum imperdiet. Duis sagittis ipsum.

Connect with him on :

2 komentar

Assalamu'alaikum Apa kabar Mbak Afra,,saya adalah penggemar mbak Afra, terutama sejak novel pertama mbak afra terbit , mulai dari Topan atau seratus bunga mawar buat Mr valentine itu,,yang dulunya ada di majalah Annida. Mbak, kalau mau menulis novel itu perlu imajinasi gitu atau kreativitas gak|? ni ana lagi belajar nulis..cuma susah n berat kalau mau nulis novel n cerpen jadinya ana memutuskan untuk belajar menulis non fiksi. Karena ini berhubung dengan menerbitkan naskah sendiri, kebutulan buku ana dah jadi, judulnya wordpress cash machine, kebetulan dah ana tawarin kebeberapa penerbit e, cuma karena ana kirim via email tanggapannya kurang. menurut kakak sebaiknya bagaimana, karena modal ana cuma dikit n beluma da penerbit yang menghubungi ana. jazzakumullahj khair

Nice,

Share Info juga, buat para pelaku self publishing :
Kami menyediakan jasa pra terbit seperti jasa editing, layouting, dan desain cover, serta cetak buku tanpa minimal eksemplar.
Silakan mampir dulu ke https://malkasmedia.wordpress.com/kerjasama/

Terima kasih

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.